• Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An-Nur Pamulang Permai - 1 , Yayasan An-Nur Pamulang Permai (YAPP)-Merajut Ukhuwah, Memakmurkan Rumah-Nya dan Menggapai Ridha-Nya
Rabu, 6 Mei 2026

Getaran Rindu dari Pamulang Permai: Melepas Sembilan Tamu Allah Menjemput Haji Mabrur

Getaran Rindu dari Pamulang Permai: Melepas Sembilan Tamu Allah Menjemput Haji Mabrur
Bagikan

PAMULANG – Udara malam di kawasan Pamulang Permai 1, Sabtu (18/4/2026), terasa lebih sejuk dari biasanya. Namun, di dalam Masjid An-Nur, suasana justru menghangat oleh suasana sahdu dan haru, serta oleh  lantunan selawat yang menggema. Malam itu, warga RW 12 berkumpul bukan sekadar untuk silaturahmi rutin, melainkan untuk mengantarkan doa dalam gelaran “Walimatus Safar Haji”.

Sembilan warga terbaik dari lingkungan tersebut telah terpilih menjadi “Tamu Allah” (Dhuyufurrahman) pada musim haji tahun 1447 Hijriah ini. Senyum tak lepas dari wajah para calon jemaah, meski gurat kecemasan dan kerinduan pada Baitullah tampak jelas di mata mereka.

Sembilan Nama dalam Satu Doa
Di barisan depan bagian tengah, duduk para calon jemaah yang sebentar lagi akan menanggalkan pakaian duniawi demi dua helai kain ihram putih. Mereka adalah:

  1. Bapak Fadly Indrawarman bin Munir dan istrinya, Ibu Gabby Rizkiyana Khalawi, pasangan dari Jalan Permai Raya 10 yang tampak serasi dalam balutan busana muslim senada.
  2. Bpk Liliek Trias Handarto bin Djarot Sutrisno bersama Ibu Bunga Namira binti Al Mansyur dari Blok AX21.
  3. Bapak Suparno bin Kasani*l dari Jalan Permai Raya 13.
  4. Bapak Nofiar bin Abdurrahman beserta sang istri, Ibu Maswarni binti Muhammad Said, yang juga berasal dari Jalan Permai Raya 13.
  5. Bapak Ahmad Azharuddin Lathif dan Ibu Nurulhayati dari Jalan Permai Raya VI.

Kehadiran mereka di tengah warga malam itu menjadi magnet emosional. Tetangga yang biasanya hanya bertegur sapa di pagar rumah, kini memeluk erat, menitipkan doa agar bisa menyusul jejak kaki mereka di tanah pasir Mekkah dan Madinah.

Kepasrahan di Ambang Keberangkatan
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Bapak KH Munawewir, Imam Masjid An-Nur. Saat tiba waktunya sambutan, Bapak Fadly Indrawarman berdiri mewakili rekan-rekan calon jemaah lainnya. Suaranya sempat bergetar saat memulai kalimat pertamanya.
“Kehadiran dan doa restu dari Bapak dan Ibu semua merupakan kebahagiaan serta penguat bagi kami dalam mempersiapkan diri menunaikan ibadah haji,” ujarnya dengan nada rendah yang penuh ketulusan.

Fadly menekankan bahwa keberangkatan ini bukanlah karena kemuliaan pribadi mereka, melainkan murni panggilan Sang Khalik. Ia secara khusus memohonkan maaf kepada seluruh warga jika selama bertetangga terdapat lisan yang melukai atau perbuatan yang kurang berkenan.

“Kami mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Semoga keberangkatan kami menjadi sarana memperbaiki diri,” tambahnya menutup sambutan dengan harapan pulang membawa predikat haji mabrur.

Senada dengan itu, Bapak Rusdy Rakib, Wakil Ketua Yayasan An-Nur, memberikan pesan yang sangat menyentuh. Ia mengingatkan para jemaah untuk menjaga hati dan melepaskan seluruh beban duniawi selama di Tanah Suci.

“Haji itu adalah perjalanan fisik sekaligus rohani. Lupakan sejenak urusan di sini, fokuslah pada pertemuan Anda dengan Allah,” pesan Rusdy. Ia juga mengingatkan agar para jemaah tidak terlalu sering memegang gawai (HP) demi konten, agar kekhusyukan tidak terganggu oleh urusan video call atau media sosial.

Pesan Mendalam KH Hasan Musthofi: Antara Fisik dan Rohani
Puncak acara malam itu adalah tausiyah dari Drs. KH Hasan Musthofi, SQ., MA. Dengan gaya bahasa yang lugas namun sesekali diselingi humor segar khas kaum santri, Kiai Hasan membedah makna filosofis di balik ritual haji.

Mengawali ceramahnya, Kiai Hasan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 196: “Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillāh”—Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.

“Haji itu harus lillāh, murni karena Allah. Ada tiga faktor yang menentukan kesiapan seseorang: ongkos (kemampuan finansial), fisik, dan yang paling penting adalah rohani,” urai Kiai Hasan.

Beliau menceritakan betapa beratnya medan di Tanah Suci yang seringkali menguji kesabaran. Kiai Hasan mengisahkan pengalaman pribadinya tentang betapa padatnya jalur Arafah menuju Muzdalifah. “Kalau rohani kita tidak kuat, di sana kita bisa marah-marah hanya karena urusan antre makanan atau fasilitas yang kurang memadai. Padahal, inti haji itu adalah menekan syahwat, ego, dan emosi,” tegasnya.

Kiai Hasan juga menjelaskan filosofi pakaian ihram. Dua helai kain putih tak berjahit adalah simbol kesetaraan. “Di depan Ka’bah, jabatan Anda tidak berlaku. Mau ketua yayasan, mau tukang sapu, semua sama. Pertanyaannya, mampukah rohani kita memposisikan diri pada kesetaraan hakiki itu?”

Beliau menutup ceramahnya dengan mengingatkan bahwa haji mabrur bukanlah gelar yang didapat di atas kertas, melainkan perubahan perilaku setelah pulang. “Haji mabrur itu terlihat dari semakin baik akhlaknya, semakin rajin ibadahnya, dan semakin besar kasih sayangnya kepada sesama,” pungkas sang Kiai.

Melepas dengan Tangis dan Doa
Acara yang berlangsung hingga larut malam tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh KH Hasan Musthofi. Suasana berubah menjadi sangat mengharukan saat prosesi bersalam-salaman dilakukan. Beberapa warga tampak membisikkan doa-doa khusus, menitipkan nama agar disebut di depan Multazam. Air mata tumpah tak terbendung. Masjid An-Nur malam itu menjadi saksi sebuah solidaritas spiritual yang luar biasa di tengah masyarakat urban Pamulang.

Walimatus Safar ini bukan sekadar seremoni keberangkatan, melainkan sebuah pengingat bagi mereka yang ditinggalkan bahwa Baitullah selalu memanggil siapa saja yang memiliki kerinduan dan ketulusan hati.

Selamat jalan, para Tamu Allah dari RW 12 Pamulang Permai 1. Semoga Allah memudahkan langkah kalian, menjaga kesehatan kalian, dan membawa kalian pulang kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur dan mabrurah. Labbaik Allahumma Labbaik

SebelumnyaMenelusuri Labirin Makna Halal Bihalal di Masjid An-Nur: Antara Syariat dan Rahasia "Kupatan"SesudahnyaJejak Takwa di Tanah Suci: Kala Jemaah Pamulang Merajut Rindu di Masjid Quba dan Mengenang Syuhada di Bukit Uhud
Tidak ada komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tahun Berdiri2000