Jejak Takwa di Tanah Suci: Kala Jemaah Pamulang Merajut Rindu di Masjid Quba dan Mengenang Syuhada di Bukit Uhud
MADINAH – Sinar matahari pagi di Kota Madinah Al-Munawwarah mulai menyapa dengan kehangatan yang khas pada pukul 06.00 hari Selasa, 28 April 2026. Di tengah hiruk-pikuk kota suci yang tak pernah tidur, rombongan 9 jemaah haji Mandiri yang diketuai Bapak Rahmat Sobari, memakai sal biru putih tampak berkumpul dengan wajah penuh binar. Mereka adalah “jamaah rombongan mandiri” Embarkasi JKB 4, Kelompok Terbang (Kloter) 4, gelombang pertama, yang mayoritas berasal dari Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan.
Hari itu bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah hari “ziarah” atau “city tour”, sebuah fragmen perjalanan haji yang dirancang untuk membawa para tamu Allah kembali ke masa lalu, menyusuri lorong waktu menuju zaman perjuangan Rasulullah SAW.

Wangi Manis di Ladang Kurma
Perjalanan dimulai sejak pagi buta. Destinasi pertama mereka adalah kebun kurma yang rimbun di pinggiran Madinah. Begitu turun dari bus, aroma tanah kering yang menyatu dengan manisnya buah kurma yang matang menyambut indra penciuman. Jemaah Pamulang ini seolah menemukan oase di tengah gurun.
Kebun kurma ini bukan sekadar tempat agrowisata. Di sini, para jemaah melihat langsung bagaimana pohon-pohon yang diberkati itu tumbuh. Namun, bukan hanya pemandangan yang dicari. Naluri “belanja” khas jemaah Indonesia mulai tampak.
Dengan penuh semangat, mereka menyusuri rak-rak yang menjajakan berbagai varietas kurma, mulai dari Ajwa yang legendaris, Sukari yang lembut bak karamel, hingga kurma muda yang dipercaya memiliki khasiat kesehatan.
Tak hanya kurma, kantong-kantong belanjaan mulai terisi penuh dengan coklat aneka rasa, kismis, tasbih kayu, minyak wangi aromatik, hingga pakaian khas Timur Tengah. “Ini untuk oleh-oleh keluarga di Pamulang nanti,” ujar salah seorang jemaah sambil tersenyum lebar menunjukkan sekotak kurma Ajwa. Transaksi jual beli yang ramah, dengan menggunakan bahasa indonesia, menjadi bumbu manis di awal perjalanan mereka.
Masjid Quba: Dua Rakaat Senilai Umrah
Setelah puas berbelanja, rombongan bergerak menuju sebuah bangunan megah bercat putih bersih dengan empat menara yang menjulang tinggi ke angit biru. Inilah Masjid Quba.
Sebelum jemaah melangkahkan kaki ke dalam masjid, salah seorang anggota rombongan yang juga Ketua Yayasan An-Nur Pamulang Permai 1, AX-BX, Ustadz Azharuddin Lathif, mengumpulkan rombongan di pelataran. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, beliau memberikan penjelasan yang membuat suasana seketika hening dan khidmat.
“Bapak dan Ibu sekalian, di depan kita berdiri masjid yang didirikan atas dasar takwa,” buka Ustadz Azharuddin. Beliau menjelaskan bahwa Masjid Quba adalah tonggak sejarah penting dalam hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 1 Hijriah (622 M). Rasulullah sendiri yang meletakkan batu pertama pembangunan masjid ini.
Ustadz Azharuddin mengingatkan tentang sebuah keutamaan luar biasa yang membuat mata para jemaah berkaca-kaca. Beliau mengutip hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah: “Barangsiapa bersuci di rumahnya (atau hotelnya), lalu pergi ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya pahala seperti umrah.”
Mendengar hal itu, jemaah yang sebelumnya sudah berwudu sejak dari hotel, segera bergegas masuk. Di bawah 56 kubah masjid yang kini modern namun tetap menyimpan ruh sejarah, jemaah Pamulang tersebut bersujud. Dalam dua rakaat yang khusyuk, mereka menitipkan doa, harapan, dan syukur karena telah diizinkan menginjakkan kaki di tempat yang dahulu sering dikunjungi Rasulullah setiap hari Sabtu, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara.

Bukit Uhud: Saksi Bisu Ketaatan dan Pengorbanan
Matahari mulai meninggi saat bus membawa rombongan menuju utara Madinah. Siluet gunung yang kemerahan mulai terlihat. Itulah Jabal Uhud, atau Gunung Uhud. Sebuah gunung yang menurut hadits, adalah gunung yang mencintai umat Islam dan dicintai oleh Rasulullah SAW.
Namun, di balik keindahannya, Uhud menyimpan memori pahit sekaligus pelajaran besar bagi sejarah Islam. Ustadz Azharuddin kembali mengajak jemaah berkumpul di bawah kaki bukit kecil yang dikenal sebagai Bukit Pemanah (Jabal Rumat).
“Di sinilah, pada tahun 3 Hijriah, terjadi pertempuran hebat yang melibatkan sekitar 1.000 pasukan Muslim melawan 3.000 pasukan Quraisy,” jelasnya. Narasi Ustadz Azharuddin membawa imajinasi jemaah ke masa 1.400 tahun silam. Beliau menceritakan bagaimana awalnya pasukan Muslim hampir meraih kemenangan mutlak.
Namun, drama terjadi di bukit tempat mereka berdiri sekarang. Pasukan pemanah yang diperintahkan Nabi untuk tetap menjaga posisi di atas bukit, apa pun yang terjadi, justru goyah. Tergiur oleh harta rampasan perang (ghanimah) yang ditinggalkan musuh di lembah, sebagian besar pemanah turun meninggalkan pos mereka.
“Kekhilafan itu berbayar mahal,” lanjut Ustadz Azharuddin. Khalid bin Walid, yang saat itu belum memeluk Islam, melihat celah tersebut dan menyerang balik dari arah belakang. Keadaan berbalik 180 derajat. Pasukan Muslim terjepit, bahkan Rasulullah SAW sendiri terluka parah.
Jemaah tertunduk lesu saat diceritakan tentang 70 sahabat Nabi yang gugur sebagai syuhada, termasuk Singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi yang sangat beliau cintai. Jemaah kemudian diajak menuju pagar besi yang membatasi area pemakaman para syuhada Uhud. Di sana, mereka melangitkan doa-doa keselamatan untuk para pahlawan Islam.

Hikmah dari Debu Madinah
Kunjungan ke Bukit Uhud hari itu ditutup dengan pesan mendalam dari sang Ustadz. “Uhud bukan sekadar tentang kekalahan militer. Uhud adalah pelajaran abadi tentang ketaatan mutlak kepada pemimpin—dalam hal ini Rasulullah—dan peringatan tentang betapa bahayanya jika cinta dunia telah melalaikan kita dari perintah Allah.”
Pesan itu seolah meresap ke dalam sanubari jemaah Pamulang. Perjalanan ziarah ini bukan sekadar wisata sejarah, melainkan sarana penguatan spiritual sebelum mereka menghadapi puncak ibadah haji nantinya di Makkah.
Saat bus mulai bergerak meninggalkan kawasan Uhud untuk kembali ke hotel, suasana di dalam bus terasa berbeda. Ada keheningan yang sarat makna. Sebagian jemaah tampak merenung, sebagian lagi memutar kembali memori penjelasan ustadz dalam rekaman ponsel mereka.
Hari itu, Selasa 28 April 2026, jemaah haji Kloter 4 dari Pamulang tidak hanya membawa pulang kurma dan coklat di tas belanja mereka, tetapi juga membawa pulang “kurma” iman yang manis dan keteguhan hati dari sisa-sisa debu sejarah di Quba dan Uhud. Perjalanan menuju Allah baru saja dimulai, dan mereka kini melangkah dengan pemahaman yang lebih dalam tentang arti ketaatan dan pengorbanan. (Azlaf)
