Menapak Jejak Rasul di Madinah: Catatan Spiritual Jamaah Haji Pamulang di Antara Awan Ghamamah dan Kesahajaan Sahabat
MADINAH – Semburat jingga fajar baru saja menyapa ufuk kota Madinah Al-Munawwarah ketika sekelompok pria dan wanita berpakaian takwa mulai melangkah teratur meninggalkan kemegahan Masjid Nabawi. Hari itu, Kamis, 30 April 2026, jarum jam menunjukkan pukul 06.15 Waktu Arab Saudi. Di saat suhu kota masih terasa sejuk, semangat tinggi menyelimuti Regu 3, Rombongan 9 dari Kelompok Haji Mandiri, Kloter 4 asal Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan.
Di bawah komando Ustad Zainal Arifin selaku Ketua Regu (Karu), para jamaah ini tidak sedang sekadar berjalan santai. Mereka sedang melakukan sebuah perjalanan spiritual bertajuk “Napak Tilas Sejarah”, mengunjungi tiga situs suci yang menjadi saksi bisu perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat terdekatnya: Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Masjid Ali bin Abi Thalib.
Ghamamah: Di Mana Awan Pernah Berkhidmat
Tujuan pertama mereka adalah Masjid Ghamamah, yang terletak hanya sekitar 300 meter di sebelah barat daya Masjid Nabawi. Bangunan dengan kubah-kubah putih yang artistik dan dinding batu basal hitam yang kokoh ini langsung menarik perhatian jamaah.
Ustad Ah Azharuddin Lathif, salah seorang jamaah yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat sekaligus Ketua Pengurus Masjid An-Nur Pamulang Permai AX-BX, berdiri di hadapan rekan-rekannya. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia mulai mengisahkan sejarah di balik nama “Ghamamah”.
Dalam bahasa Arab, “Ghamamah” berarti awan atau mendung,” jelas Ustad Azharuddin sembari menunjuk ke arah langit Madinah yang cerah. “Di sinilah dahulu Rasulullah SAW melaksanakan shalat Istisqa’ atau meminta hujan. Riwayat menyebutkan bahwa saat beliau berdoa, segumpal awan datang menaungi beliau dari terik matahari yang menyengat hingga hujan pun turun membasahi bumi Madinah.”
Beliau menambahkan bahwa lokasi ini dulunya adalah tanah lapang luas yang disebut “Al-Musala”, Selain shalat minta hujan, Rasulullah juga kerap memimpin shalat Idul Fitri dan Idul Adha di tempat ini. Bangunan yang berdiri tegak sekarang, menurut penjelasannya, adalah hasil renovasi berkelanjutan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga masa kepemimpinan Raja Fahd dari Kerajaan Arab Saudi.

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Monumen Kesetiaan Sang Sahabat
Hanya sepelemparan batu dari Ghamamah, regu asal Pamulang ini bergeser ke Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Masjid yang lebih mungil namun sarat akan aura ketenangan ini memiliki arsitektur klasik yang unik.
Ustad Azharuddin kembali memberikan wawasan sejarah kepada jamaah yang menyimak dengan khidmat. “Masjid ini berdiri di area yang sama di mana Rasulullah sering melakukan salat Id.
Namun, tempat ini menjadi sangat istimewa karena di sinilah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengimami shalat menggantikan Rasulullah,” tuturnya.
Bagi jamaah, berdiri di depan masjid ini bukan sekadar urusan melihat bangunan batu basal hitam. Ada rasa haru yang menyelinap saat membayangkan sosok *As-Siddiq*, manusia yang paling membenarkan risalah Nabi, pernah bersujud di titik yang sama. Struktur bangunan yang ada saat ini merupakan warisan renovasi abad ke-13 Hijriah pada era Sultan Mahmud II dari Kekaisaran Utsmaniyah, yang tetap dijaga keasliannya hingga kini.
Ali bin Abi Thalib: Simbol Kemuliaan Keluarga Nabi
Perjalanan berlanjut ke situs ketiga, yakni Masjid Ali bin Abi Thalib. Berlokasi di wilayah Al-Munakhah, sekitar 150 hingga 400 meter dari halaman Masjid Nabawi, masjid ini tampak gagah dengan menara setinggi 26 meter yang menjulang ke angkasa.
“Masjid ini adalah simbol penghormatan kepada menantu sekaligus sepupu baginda Nabi,” ujar Ustad Azharuddin. Ia menjelaskan ada dua riwayat kuat mengenai lokasi ini. Pertama, sebagai tempat Ali bin Abi Thalib mengimami shalat Idul Adha pada tahun 35 Hijriah. Kedua, diyakini sebagai area di mana dahulu berdiri rumah kediaman Ali bersama istrinya, Fatimah az-Zahra, putri tercinta Rasulullah.
Jamaah tampak terpukau mendengar detail teknis yang disampaikan, termasuk sejarah renovasi besar-besaran oleh Raja Fahd pada tahun 1411 Hijriah yang memperluas masjid ini hingga mencapai luas 682 meter persegi. “Melihat masjid-masjid ini membuat kita sadar betapa dekatnya kehidupan harian para sahabat dengan denyut nadi dakwah Rasulullah di Madinah,” tambah salah satu jamaah sembari mengangguk setuju.

Simfoni Merpati dan Swa Foto di Pelataran Sejarah
Di sela-sela penjelasan sejarah yang berat, suasana mencair saat jamaah melintasi pelataran terbuka di antara ketiga masjid tersebut. Ribuan burung merpati Madinah terbang rendah, sesekali hinggap di atas paving blok yang bersih.
Pemandangan ini tak disia-siakan oleh jamaah Regu 3. Di tengah keseriusan menuntut ilmu sejarah, mereka menyempatkan diri untuk berswafoto (selfie) dengan latar belakang ribuan merpati yang berterbangan. Gelak tawa kecil pecah saat beberapa burung dengan berani mendekat ke arah jamaah yang membawa sedikit biji-bijian.
“Ini momen yang luar biasa. Selain mendapatkan asupan ruhani dan ilmu dari penjelasan Ustad Azharuddin, kami juga bisa menikmati keindahan Madinah secara visual,” ujar salah seorang jamaah sambil menunjukkan hasil fotonya bersama gerombolan burung merpati yang membumbung tinggi. (Azlaf)
