Undangan Untuk Mendekat
Oleh : Ustad Davy Bya
Sahabat akhiratku.
DI SEBUAH KAMAR yang suram, seorang lelaki tengah menulis surat kepada Tuhan. Isinya hanya satu baris: “Maafkan aku Tuhan. Aku berhenti menjadi manusia”. Setelah itu, ia bakar, dan abunya beterbangan. Ia hirup, lalu tertidur. Esok harinya, ia bangun dan menulis lagi: “Terima kasih Tuhan. Aku ingat menjadi abu”. Orang-orang yang mendengar ceritanya, mengira ia sedang menulis puisi kepada Tuhan. Tapi sesungguhnya, ia hanya ingin menjadi ‘ringan’, tak ada beban pikiran dan nafsu yang menggebu, agar angin bisa mengangkatnya pergi dari kepalanya yang penuh dengan ‘manusia’. Beberapa orang menganggapnya kurang waras, tapi kata-kata itu bagi seorang ahli hikmah justru membelah kebisuan. Kita tertawa, kita marah, kita diam, lalu tersadar: ‘Gila adalah cermin yang tidak mau dan tidak bisa berbohong”.
Setiap manusia sejatinya pernah merasakan pergolakan batin: konflik internal atau pertarungan dalam diri yang melibatkan perasaan dan pikiran. Mengapa begitu? Kerana nafsu manusia itu selalu ingin lebih. Kadang tidak tahu cukup, tidak tahu tenang, bahkan tidak tahu tujuan. Padahal dirinya dibekali oleh akal, diberi hati, dan diberi petunjuk agar tidak menjadi ‘budak nafsu’. Menurut Mawlana Rumi, setengah dari hidup kita habis untuk menyenangkan orang lain. Setengah lainnya habis kerana gelisah memikirkan perkataan orang lain. Selanjutnya Rumi berkata, “Hentikan permainan ini, kamu sudah cukup bermain”. Sebab jalan Tuhan tidak membutuhkan penonton. Ia sunyi, dan kita akan baik-baik saja di jalan itu. Meski tak disorot oleh siapa pun.
Seorang teman pengajian pernah berkata, “Aku lebih baik berjalan memakai sandalku sambil memikirkan Tuhan, daripada duduk di masjid tapi memikirkan sandalku”. Banyak teman yang merasa heran dengan perilakunya. Ada yang mengatakan ia mulai linglung kerana kebanyakan dzikir. Tapi bagiku, itu hal yang biasa, kerana aku kerap berhubungan dengan kitab-kitab sufi klasik. Mereka berpendapat, ‘ketenangan bukan saat semua orang setuju denganmu’. Tapi saat kita berdamai dengan kehendak-Nya. Bukankah sudah cukup kita disibukkan oleh manusia, kini saatnya pikiran dan hati kita disibukkan dengan mengingat-Nya, dalam situasi dan kondisi apa pun. Begitulah. Kita tengah berada di mana sebagian orang mengalami tekanan saat menjalankan agama. Bukan kerana tidak percaya, tapi kerana takut salah. Ada yang merasa harus selalu terlihat taat. Ada yang takut dihakimi kalau hidupnya belum terlihat ‘alim’. Tekanan bisa saja datang dari orangtua, teman atau komunitas. Kadang juga dari diri sendiri yang ingin terlihat ‘sempurna’.
Bagiku, setiap orang punya perjalanan iman, perjalanan spiritual sendiri-sendiri. Beragama tidak harus tampil tanpa dosa sama sekali, kerana iman itu bukan soal tampil rapi dan islami, tapi soal jujur dan bertumbuh. Agama sejatinya harus dijadikan tempat aman untuk bertanya dan belajar, bukan tempat dogma yang dipaksakan. Allah memberikan akal bukan untuk hiasan belaka. Setiap pertanyaan yang muncul di kepala, sejatinya adalah undangan untuk mendekat. Sebab yang berbahaya bukanlah pertanyaannya, tapi ketakutan yang bisa membuat iman kita menjadi rapuh. Ibnu Rusyd berkata, “Nalar adalah sahabat iman”.
