• Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An-Nur Pamulang Permai - 1 , Yayasan An-Nur Pamulang Permai (YAPP)-Merajut Ukhuwah, Memakmurkan Rumah-Nya dan Menggapai Ridha-Nya
Sabtu, 18 April 2026

Jangan Remehkan Sisa Hidupmu

Jangan Remehkan Sisa Hidupmu
Bagikan

By : Eyang Ady Sumanto

Waktu, layaknya sungai yang mengalir deras, tak pernah mengenal kata lelah. Ia terus bergerak maju, meninggalkan segala yang telah berlalu di belakang. Begitulah hakikat kehidupan kita sebagai makhluk Allah, mengarungi takdir yang telah digariskan-Nya. Setiap detik yang kita jalani adalah bagian dari perjalanan panjang menuju sebuah tujuan, sebuah episode yang tak terulang dalam buku kehidupan kita. Kita hidup berdasarkan fitrah, mengikuti irama alam semesta yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Kita memiliki masa lalu, sebuah arsip yang penuh dengan kisah. Di sana, tersimpan rapi kenangan pahit dan manis. Ada hari-hari yang diliputi kemuraman, saat langit seakan runtuh dan tak ada cahaya yang bisa menembus. Ada pula momen-momen kesedihan yang mendalam, saat air mata menjadi satu-satunya bahasa. Namun, di antara duka itu, terselip pula tawa riang dan kebahagiaan yang tak terlukiskan.

Semua itu adalah bagian dari mozaik kehidupan kita. Pengalaman-pengalaman ini, baik yang menyakitkan maupun yang membahagiakan, membentuk siapa diri kita hari ini. Masa lalu bukanlah belenggu yang mengikat, melainkan sebuah cermin yang menunjukkan jejak-jejak yang telah kita tapaki. Ia mengajarkan kita banyak hal, tentang ketahanan, tentang kekuatan, dan tentang arti sebuah perjuangan.

Masa depan, di sisi lain, hanyalah kanvas kosong yang belum terisi. Kita hanya bisa mengukirnya lewat mimpi dan khayalan, merangkai harapan dan cita-cita. Namun, jangan pernah ragu untuk bermimpi.

Jangan pula merasa salah jika berkhayal. Sebab, mimpi dan khayalan adalah bahan bakar yang mendorong kita untuk melangkah. Dengan berbekal pengalaman dari masa lalu, kita memiliki peta dan kompas yang bisa menuntun kita. Segala yang telah kita pelajari dari kesalahan dan kegagalan adalah modal berharga untuk mengukir sisa hidup kita agar menjadi lebih baik. Ia adalah pelajaran yang tak ternilai, yang tak bisa didapatkan di bangku sekolah mana pun.

Justru, pengalaman pahit adalah obat terbaik. Luka yang pernah kita rasakan akan menjadi pengingat, agar kita bisa lebih sehat dalam menjalani kehidupan ini. Setiap pelajaran yang kita terima di masa lalu akan mengikis kesombongan dan melahirkan sikap rendah hati. Kita akan belajar menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menyikapi setiap permasalahan. Kita akan menyadari bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai rencana, dan itulah yang membuat kita tumbuh. Kedewasaan bukanlah tentang usia, melainkan tentang bagaimana kita bertindak, bagaimana kita mengambil keputusan, dan bagaimana kita bangkit setelah terjatuh.

Namun, kita perlu mengingat satu hal yang amat penting: tidak selamanya yang benar menurut kita, benar di mata Allah. Pikiran dan pandangan kita terbatas. Ilmu kita tak sebanding dengan luasnya ilmu Allah. Oleh karena itu, jadikanlah sisa hidup kita sebagai sebuah permata yang bersih. Ia bukan hanya untuk kita sendiri, melainkan untuk anak-anak dan cucu kita. Jadilah teladan yang baik. Wariskanlah nilai-nilai luhur dan akhlak mulia, bukan hanya harta dan kedudukan. Biarkan mereka melihat bahwa kakek dan nenek mereka adalah orang-orang yang menjalani hidup dengan penuh keberkahan dan ketaatan.

Sangat mudah untuk merasa sombong ketika memiliki status sosial yang tinggi atau tinggi hati karena kekayaan. Namun, semua itu hanyalah tipuan dunia. Segala yang kita miliki di dunia ini bersifat fana, tidak abadi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hadid, ayat 20:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekayaan, status sosial, dan segala kemegahan dunia hanyalah perhiasan yang sementara. Ia tak akan menolong kita di akhirat kelak. Begitu pula dengan sebuah Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang menyatakan:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.”

Hadis ini adalah pengingat yang menyentuh hati. Kesombongan, sekecil apa pun, dapat menjadi penghalang bagi kita untuk meraih surga. Sombong adalah penyakit hati yang membahayakan. Ia membuat kita merasa lebih baik dari orang lain, melupakan bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah dari Allah.

Maka, manfaatkanlah sisa hidupmu dengan sebaik-baiknya. Hiduplah dengan kerendahan hati. Bersyukurlah atas setiap nikmat yang diberikan-Nya. Jangan biarkan masa lalu menjadi beban, tetapi jadikanlah ia pelajaran berharga. Jangan pula biarkan mimpi masa depan membuatmu lalai dari kewajiban saat ini. Ingatlah bahwa setiap langkah yang kita ambil, setiap kata yang kita ucapkan, dan setiap perbuatan yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Jadikanlah setiap hembusan napas sebagai ibadah, dan setiap detik sebagai kesempatan untuk berbuat kebaikan. Karena sesungguhnya, kehidupan ini adalah perjalanan pulang, dan bekal terbaik yang bisa kita bawa adalah ketakwaan.

SebelumnyaMenyediakan Ruang Untuk IkhlasSesudahnyaSemua Akan Nikmat Pada Waktunya
Tahun Berdiri2000