• Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An-Nur Pamulang Permai - 1 , Yayasan An-Nur Pamulang Permai (YAPP)-Merajut Ukhuwah, Memakmurkan Rumah-Nya dan Menggapai Ridha-Nya
Sabtu, 18 April 2026

Merawat Lisan, Menyelamatkan Hubungan

Merawat Lisan, Menyelamatkan Hubungan
Bagikan

Oleh : Eyang Ady Sumanto

Di sudut-sudut kehidupan yang ramai, di tengah hiruk pikuk percakapan, kita sering kali lupa akan kekuatan dahsyat dari apa yang keluar dari mulut kita. Kita menganggap remeh kata-kata, seolah ia sekadar angin lalu yang tak berbekas. Padahal, satu ucapan yang terucap dapat menjadi benih yang tumbuh subur menjadi kebaikan atau, sebaliknya, menjadi duri yang menyakiti hati.

Dahulu kala, ada seorang pemuda bernama Taufiq. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berwawasan luas. Sayangnya, Taufiq memiliki satu kelemahan, lisannya yang tajam. Ia sering kali melontarkan kata-kata sindiran atau kritik yang menyakitkan, tanpa menyadari dampak yang ditimbulkannya. Ia berdalih, “Aku hanya berkata jujur. Aku tak suka basa-basi.” Namun, kejujuran yang tanpa hikmah hanya akan melukai.

Suatu hari, Taufiq bertemu dengan seorang kakek bijaksana di sebuah warung kopi. Kakek itu, dengan tatapan teduh, menyapa Taufiq. Percakapan mereka mengalir ringan, hingga akhirnya Taufiq mengkritik kebijakan pemerintah dengan nada sinis dan merendahkan. Kakek itu terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara lembut, “Nak, tahukah engkau, lisan itu bagaikan pedang. Jika tak hati-hati, ia bisa melukai siapa saja, termasuk dirimu sendiri.”

Taufiq merasa tersinggung. Ia menganggap kakek itu terlalu sensitif. “Aku hanya mengatakan kebenaran,” ia berdalih. Kakek itu tersenyum tipis. “Kebenaran itu seperti obat, Nak. Jika diberikan dengan cara yang salah, ia bisa menjadi racun. Kebenaran yang disampaikan dengan lisan yang kotor, hanya akan menimbulkan permusuhan.”

Kisah Taufiq ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga. Lisan itu cerminan hati. Apa yang keluar dari mulut kita adalah manifestasi dari apa yang ada di dalam diri kita. Nabi Muhammad SAW, panutan kita semua, selalu mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berbicara. Beliau bersabda:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa mendalamnya sabda ini. Ia bukan hanya sekadar anjuran, melainkan sebuah prinsip hidup. Jika kita tak mampu mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat, kata-kata yang baik, maka diam adalah pilihan terbaik. Diam bukan berarti kalah, diam adalah bentuk kearifan. Diam adalah bentuk kendali diri dari mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan mudharat atau konflik.

Kita sering melihat, bagaimana satu ucapan yang buruk dapat merusak hubungan sosial. Satu kata yang terlontar karena emosi dapat memicu perpecahan, bahkan di antara teman atau keluarga terdekat. Sebaliknya, kata-kata yang baik dapat menjadi jembatan yang menghubungkan hati, membangun hubungan yang harmonis, dan menyembuhkan luka.

Dalam budaya Jawa, ada sebuah filosofi yang sangat indah dan relevan,  “Ajining dhiri saka lathi” yang berarti harga diri seseorang tampak dari ucapannya. Ini bukan sekadar pepatah kuno. Ini adalah sebuah kebenaran universal yang melintasi zaman. Seseorang yang memiliki harga diri tinggi, tidak akan merendahkan orang lain.

Seseorang yang tulus, tidak akan memanipulasi kata-kata untuk sekadar pencitraan. Ia berbicara apa adanya, tanpa dibuat-buat. Itulah yang membedakan keanggunan sejati dengan sekadar pencitraan.

Pernahkah kita merasa terkesan pada seseorang bukan karena penampilannya yang mewah, melainkan karena cara ia berbicara? Ia berbicara dengan lembut, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menatap mata kita saat berbicara. Ia memberi ruang bagi kita untuk mengemukakan pendapat. Sikap-sikap inilah yang sesungguhnya meninggalkan kesan mendalam. Bahkan dalam konteks modern, banyak penelitian psikologi sosial menegaskan bahwa hal-hal kecil seperti kontak mata, nada suara yang ramah, dan kemampuan mendengarkan, jauh lebih meninggalkan kesan elegan dibanding sekadar penampilan fisik yang memukau.

Mari kita merenung, berapa banyak dari kita yang jatuh karena lisan? Berapa banyak dari kita yang merusak persahabatan, bahkan memicu konflik di tengah masyarakat, hanya karena lisan yang tak terkendali? Rasulullah SAW telah memberikan contoh terbaik. Beliau berbicara seperlunya, dengan lembut, dan jujur. Beliau menjauhkan diri dari ucapan yang sia-sia, berdusta, memfitnah, atau mencaci maki. Sungguh, lisan beliau adalah cerminan dari hati yang paling suci.

Kisah Taufiq, dan ajaran Nabi, serta kearifan lokal Jawa, semuanya bermuara pada satu poin penting, Jaga lisanmu. Karena satu ucapan yang menyakitkan dapat menciptakan kekacauan. Satu fitnah yang tersebar dapat memecah belah bangsa. Sebaliknya, satu kata yang penuh kasih sayang dapat membangun, menyembuhkan, dan mempersatukan.

Mari kita jadikan setiap kata yang keluar dari mulut kita sebagai ladang amal kebaikan. Mari kita biasakan diri untuk berkata baik, berkata jujur, dan berkata-kata yang membangun. Jika tak mampu, diamlah. Karena diam dalam kebaikan jauh lebih mulia daripada berbicara dalam keburukan. Sungguh, lisan itu amanah. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan sesama. Peliharalah amanah itu, dan kita akan melihat dunia yang lebih baik. Karena, pada akhirnya, harga diri kita bukan hanya di mata kita sendiri, tetapi juga di mata Allah dan di mata sesama manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia anggap biasa saja, namun bisa menjerumuskannya ke dalam api neraka sejauh jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh, lisan yang tak terkendali adalah pintu menuju kehancuran. Semoga kita termasuk golongan hamba yang senantiasa menjaga lisan, dan menjadikannya sumber kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

SebelumnyaSebuah Kehormatan di Mata AllahSesudahnyaKetika Ritual Jadi Formalitas
Tahun Berdiri2000